[intro] [Verse 1] Langit Kufah masih berselimut pagi Saat seorang hamba berjalan menanti ‘Ali, sang singa di medan Badar Kini memimpin umat dengan hati sabar Bertahun ia redam gelombang fitnah Dari Jamal ke Shiffīn, luka tak punah Ia bukan sekadar pejuang Tapi cahaya akal dan iman yang tenang [Pre-Chorus] Namun malam punya rencana lain Dan fanatisme buta mengintai dalam bayang-bayang [Chorus] Syahid di mihrabnya, dalam sujud cinta Tangan yang dulu menggenggam pedang Kini terangkat dalam damai ‘Ali, cahaya terakhir Kufah Ibnu Katsir mencatat dengan luka Bahwa sejarah tak hanya tentang siapa menang Tapi siapa yang tetap lurus Meski dunia hancur di sekelilingnya [Verse 2] Abdurrahman bin Muljam datang diam-diam Membawa pedang yang disiram racun malam Tak melihat cinta pada wajah ‘Ali Hanya fanatisme yang membutakan nurani Ali roboh, bukan karena kalah Tapi karena umat kehilangan arah Yang dicari adalah adil Tapi yang dibunuh justru pemiliknya yang asli [Pre-Chorus] Ibnu Katsir pun mengingatkan Betapa bahayanya hawa nafsu dibungkus keyakinan [Chorus] Syahid di mihrabnya, dalam sujud cinta Tangan yang dulu menggenggam pedang Kini terangkat dalam damai ‘Ali, cahaya terakhir Kufah Ia bukan hanya panglima Tapi penjaga ilmu, cahaya akidah Syahidnya bukan kekalahan Tapi tanda bahwa surga telah menjemput dengan kelembutan [Bridge – Spoken word penuh hikmah] "Dan ketika ia wafat… Tiada harta, tiada istana Hanya sejarah yang mencatat: 'Ini pemilik hati yang tak pernah goyah, meski dunia di ambang pecah.'" [Outro – Penuh harap dan renungan] Wahai umat, jangan ulangi kisahnya Jangan bunuh kebenaran karena kebencian Karena kebenaran itu bukan siapa yang lantang Tapi siapa yang tetap sabar saat dunia bising dan riuh berguncang [instrument] [end]