[intro] [instrument] [Verse 1] Di tepi sungai, sang ibu berdoa, Hati penuh takut, tapi percaya. Perintah Allah begitu nyata, Letakkan Musa di peti kayu saja. Sungai mengalir membawa takdir, Menuntun bayi pada masa besar. Fir’aun yang bengis tak menyangka, Musa kecil tumbuh di istananya. [Chorus] Musa, Musa, anugerah Ilahi, Bayi kecil dalam lindungan-Nya. Di tengah ancaman yang penuh duri, Allah menjaga sepanjang masa. [Verse 2] Sang putri Fir’aun temukan peti, Wajah Musa penuh cahaya suci. Hati sang putri luluh seketika, Musa disayang, hidup di istana. Susu ibunya menjadi takdir, Kembali dalam kasih yang hadir. Meski di istana musuh besar, Musa dibimbing oleh Yang Benar. [Chorus] Musa, Musa, anugerah Ilahi, Bayi kecil dalam lindungan-Nya. Di tengah ancaman yang penuh duri, Allah menjaga sepanjang masa. [Bridge] Di istana, Musa tumbuh kuat, Penuh hikmah dan akhlak yang hebat. Namun hati kecilnya bertanya, Tentang kebenaran di balik istana. [Chorus] Musa, Musa, anugerah Ilahi, Bayi kecil dalam lindungan-Nya. Di tengah ancaman yang penuh duri, Allah menjaga sepanjang masa. [Outro] Wahai Musa, pemimpin terpilih, Perjalananmu penuh kasih. Dari bayi hingga dewasa, Allah bersamamu selamanya. [instrument] [END]