[intro] 🎤 (Verse 1 – Penyanyi utama) Tiba-tiba hatiku ingin bangun malam Padahal biasanya berat melawan kantuk Tiba-tiba ada tangis saat dengar ayat Seolah jiwaku disentuh tanpa sebab yang tampak 🎶 (Respons – Audiens) Apa itu hanya suasana hati biasa? Atau hanya emosi sesaat saja? Mengapa ada getar di dada, Tanpa tahu dari mana ia bermula? 🎤 (Verse 2 – Penyanyi utama) Wahai pencari petunjuk… Itulah warid: sapaan dari langit Bukan karena engkau hebat Tapi karena Dia sedang mengetuk lembut 🎶 (Respons – Audiens) Jadi bukan kami yang memilih terasa dekat? Tapi Allah yang mendatangi lebih dulu? Apakah itu artinya cinta-Nya dahulu, Baru cinta kami menyusul satu-satu? 🎤 (Chorus – Semua bersama) 🌟 Saat hati disapa, jangan abaikan tanda, 🌟 Itu cahaya yang mengetuk dari Yang Mahacinta. 🌙 Bukan engkau yang datang lebih dulu, 🌙 Tapi Dia yang menyapa… agar engkau mau bersatu. 🎵 (Bridge – Renungan lembut dan dalam) Jangan bangga dengan semangatmu Itu bukan murni dari dalam dirimu Jika engkau bergerak pada kebaikan Itu karena Dia yang lebih dulu memanggilmu pelan-pelan 🎤 (Verse 3 – Penyanyi utama) Ilham yang datang—tak selalu keras Kadang hanya getar, kadang hanya waswas Tapi bila kau ikuti dengan sadar Itu jalan menuju cahaya yang benar 🎶 (Respons – Audiens) Maka bila hati tersentuh malam ini Kami akan jawab tanpa menunda lagi Sebab mungkin itu warid terakhir Sebelum pintu kami tertutup sendiri... 🎤 (Final Chorus – Semua bersama, dengan keharuan dan semangat kembali) 🌟 Ilham itu sapaan lembut dari Tuhan, 🌟 Jangan abaikan, jangan simpan dalam diam. 🌙 Jika hati tersentuh, tanggapi dengan amal, 🌙 Agar sapaan jadi perjumpaan yang kekal. 🎼 Penutup (lirih, reflektif): "Dia mendatangimu... lewat warid di hati, Karena Dia rindu hatimu kembali..." "Bukan kamu yang lebih dulu mencinta, Tapi Dia yang lebih dulu membuka cinta." [instrument] [end]