
Abū ‘Ubaydah ibn al-Jarrāḥ, Amanah Sang Panglima
[intro] [Verse 1] Ia bukan yang paling lantang bicara Tapi hatinya kuat menahan dunia Abū ‘Ubaydah, nama yang dikenang Bukan karena pangkat, tapi karena tenang Ketika Rasul tunjuk panglima perang Ia tak menolak, tak pula melambung Dalam barisan, ia patuh dan teguh Mengangkat pedang… dengan iman yang utuh [Chorus] 📖 Wahai penjaga umat, engkau tanpa pamrih Dalam amanah, engkau bukan pencari puji Di mata Nabi, engkau "yang paling dipercaya" Karena engkau tak ingin dunia, tapi ridha Allah semata 🔥 Dari Badr hingga Syam Engkau membawa panji Islam Tapi engkau tinggalkan rumah dalam diam Karena cinta bukan tentang yang tampak, tapi tentang yang dalam [Verse 2] Ketika Umar wafat, ada yang berkata: "Jika Abū ‘Ubaydah masih hidup, aku akan angkat dia jadi khalifah tanpa musyawarah!" Itulah derajatmu… Bukan karena politik, tapi karena akhlakmu yang lurus dan luruh Namun Tha‘ūn merenggutmu di Syam Engkau tersenyum dalam derita yang dalam "Ya Allah, berilah aku mati sebagai Muslim dan bersama para shāliḥīn" Itulah doamu… dan itulah akhir yang hening [Bridge – Lirik lembut dengan petikan gitar pelan] Kekayaan engkau tinggalkan Kekuasaan engkau abaikan Tapi kejujuran dan keteguhan… Engkau jadikan warisan sepanjang zaman [Chorus – Reprise dengan semangat haru dan khidmat] 📖 Abū ‘Ubaydah, sang pemegang rahasia Yang hidup dalam lapang, tapi hatinya penuh wasiat surga Engkau teladan dalam diam Karena engkau jujur… bukan saat disorot, tapi dalam sunyi yang dalam 🔥 Wahai pemuda, dengarlah kisah ini Abū ‘Ubaydah tak mencari posisi Tapi karena akhlak dan amanahnya tinggi Namanya diangkat… oleh langit dan bumi [instrument] [end] [instrument] [end]

