[intro] [Verse 1] Setelah Jamal mereda dengan luka Umat berharap damai segera Namun darah Utsman belum terjawab Dan Syam menuntut agar keadilan ditegak cepat Mu‘āwiyah berdiri membawa panji Bukan karena benci, tapi darah yang belum dicuci ‘Ali, sang khalifah yang sah Menolak hukum diburu oleh amarah [Pre-Chorus] Keduanya sahabat, tak menginginkan perang Tapi gelombang fitnah tak bisa dihentikan orang [Chorus] Shiffīn, malam panjang penuh air mata Di tepi Efrat, dua pasukan berdiri bersua Bukan demi tahta, bukan karena dunia Tapi karena kebenaran yang dipahami berbeda Panji syari’at berkibar dari dua arah Namun langit menyaksikan, umat mulai lelah Ketika mushaf diangkat ke langit Darah berhenti, tapi luka mengendap begitu dalam [Verse 2] Ali ragu, sebagian pasukan bimbang Arbitrase ditawarkan oleh pihak lawan Abu Musa dan ‘Amr bin ‘Āsh duduk berunding Namun hasilnya justru membuka luka yang lebih dingin Khawārij pun muncul dari bayang Menganggap semua telah menyimpang Mereka kafirkan yang berbeda Dan pedang mereka tanpa logika [Pre-Chorus] Ibnu Katsir mencatat dengan getir Bahwa fitnah mengaburkan cahaya yang tadinya hadir [Chorus] Shiffīn, malam panjang penuh air mata Di tepi Efrat, dua pasukan berdiri bersua Bukan demi tahta, bukan karena dunia Tapi karena kebenaran yang dipahami berbeda Panji syari’at berkibar dari dua arah Namun langit menyaksikan, umat mulai lelah Ketika mushaf diangkat ke langit Darah berhenti, tapi luka mengendap begitu dalam [Bridge – Spoken Word lembut dan reflektif] "Sejarah tak ditulis hanya untuk dikenang… Tapi untuk direnungi dengan hati yang tenang. Karena bahkan para sahabat pun bisa berselisih Jika fitnah menyelimuti, dan hawa nafsu ikut menelisik." [Outro – Doa dan pelajaran] Wahai umat, jangan ulangi luka Satukan hati dengan ilmu dan takwa Jangan jadikan politik sebagai kiblat Dan jangan ikat pedang dengan dalil yang cacat Shiffīn telah berlalu… Tapi pelajarannya harus hidup dalam kalbu [instrument] [end]