Song Cover Image

Cinta Yang Terlalu Dalam

[Intro] Ada musim yang kembali setiap kali mataku menemukanmu, dan untuk sesaat, aku percaya bahwa hati yang lama mati masih mampu bersemi. [Verse 1] Di antara ribuan wajah yang singgah lalu pergi, entah mengapa hanya namamulah yang tinggal lebih lama dari seluruh kenangan yang kumiliki. Setiap tawamu adalah pagi yang terlambat datang, setiap senyummu adalah rumah yang tak pernah benar-benar bisa kutinggali. Dan diam-diam, aku mulai percaya lagi bahwa cinta mungkin masih ada untukku. [Pre-Chorus] Namun setiap bunga yang tumbuh di dadaku, akulah yang pertama mengajarinya layu. Aku padamkan api itu sebelum sempat menjadi cahaya, karena aku tahu, tak semua yang indah ditakdirkan untuk dimiliki. [Chorus] Jika saja semesta sedikit lebih baik padaku, mungkin aku yang berjalan di sampingmu hari itu. Mungkin aku yang mendengar segala cerita kecilmu, dan menjadi alasan kau tersenyum sebelum tidur. Namun aku hanyalah seseorang yang mencintaimu dari tempat paling sunyi, menyebut namamu di dalam doa yang tak pernah bersuara. [Verse 2] Ada begitu banyak kata yang ingin kuberikan padamu, tentang bagaimana kau menjelma musim yang tak pernah selesai di dalam hidupku. Tetapi keberanian adalah kemewahan yang tak pernah kupunya. Aku lebih takut kehilangan kemungkinan mencintaimu daripada menerima penolakan itu sendiri. Dan setiap kali seseorang tertawa bersamamu, berjalan begitu dekat denganmu, aku hanya mampu berkata kepada hatiku yang rapuh: “Betapa beruntungnya dia.” [Pre-Chorus] Karena ia dapat melihat cahaya di matamu dari dekat, sementara aku hanya menjadi penonton di kursi paling sunyi, menyembunyikan tepuk tangan untuk kebahagiaanmu. [Chorus] Jika saja semesta sedikit lebih baik padaku, mungkin aku yang berjalan di sampingmu hari itu. Mungkin aku yang menggenggam tanganmu saat senja, dan belajar mencintai dunia melalui matamu. Namun aku hanyalah seseorang yang mencintaimu tanpa pernah memiliki, sebuah nama yang kau lewatkan di antara ribuan kemungkinan. [Bridge] Lalu aku memilih pergi, bukan karena cintaku usai, tetapi karena ia terlalu dalam untuk terus kutatap tanpa tenggelam. Aku mengubur seluruh harap di tempat yang bahkan cahaya tak sanggup menemukannya. Dan di sana, aku belajar bahwa cinta tak selalu meminta balasan. Kadang, cinta hanya ingin melihat seseorang tetap bahagia, meskipun kebahagiaan itu tak pernah menyebut namamu. [Final Chorus] Andai waktu memberiku satu keberanian, aku ingin menggenggam tanganmu, berjalan bersamamu hingga sore kehilangan warnanya, dan mendengarkan sunyi tanpa takut pada perpisahan. Namun rupanya, ada mimpi-mimpi yang diciptakan bukan untuk diwujudkan, melainkan untuk disimpan, dipeluk dalam diam, dan dikenang seumur hidup. [Outro] Maka biarkan aku tetap menjadi rahasia yang tak pernah kau ketahui. Dan jika suatu hari dunia bertanya apa penyesalan terbesarku, aku akan menjawab dengan senyum yang paling tenang: “Aku pernah mencintaimu sedemikian dalam, namun tak pernah cukup berani untuk memberitahumu.” Dan barangkali, itulah cinta— yang paling sunyi, dan karena itu, menjadi yang paling abadi.