hidup, aku masih ingin melihatnya terbitnya cahaya di balik jemari yang lelah mengejar bayang yang kian menjauh ke ufuk sana meski langkah ini tersandung duri yang tak sengaja masih ada tawa yang tertinggal di sela hujan janji-janji bisu yang belum sempat kutunaikan di antara bising dunia yang tak pernah berhenti aku memilih untuk tetap berdiri, menanti pagi walau waktu terus memacu detak jantung yang rapuh aku tak ingin menyerah sebelum rasa ini meluruh biarlah badai datang menyapu setiap jejak langkah karena di mataku, masih ada mimpi yang harus kusembah hidup, skenario mu itu sampah kejutannya basi bagaikan bakso tumpah kupikir aku masih memiliki kekuatan yang lebih daripada mu yang memberi tak pandang kasih lihat saja dari melesetnya mu mencoba gigih bukankah sudah terlihat bahwa mu tidak terlatih kupikir lebih baik aku urus sendiri saja kaki kaki patah kancing yang terlepas bukti mu yang tak pernah menghargai aku pencari arah lagipula kau tak berarah walau di mataku dia sebongkah permata mencuri pandang dan setiap suara pilu hati yang lantang aku masih menyalahi mu atas gugup ragu mu tak sedikitpun merasa salah ku menunggu lesu pecah tangisku ini rasanya lelah membuncah tragisku inilah lelah yang tak terbendung di mata panas di telinga juga tak tergapai di doa cinta berupaya


