[intro] [Verse 1] Ia bukan raja, tapi hidup seperti rakyat Khalifah yang lembut, malu pun jadi sifat Tangannya memberi saat yang lain menahan ‘Utsmān sang pemilik dua cahaya, sahabat pilihan Namun fitnah merayap dari kejauhan Dengan bisikan dusta dan racun dalam tulisan Nama ‘Utsmān dicemari oleh kaum pendusta Hingga Madinah pun jadi medan bahaya [Pre-Chorus] Ibnu Katsir menulis dalam derai tinta Tentang umat yang lupa siapa sang mulia [Chorus] Syahid di rumahnya, mushaf di pelukannya Tak membawa pedang, hanya sabar di dada Darahnya tumpah di atas ayat Seakan dunia lupa siapa yang paling dermawan di awal umat Ia bisa melawan, ia punya kekuatan Tapi ia memilih langit sebagai perlindungan Karena tak ingin umat hancur karenanya Ia rela wafat sebagai syahid di rumahnya [Verse 2] Mereka datang dengan wajah berpura Menuntut keadilan dengan hati yang dusta Menyulut rakyat agar benci pada pemimpin Padahal ‘Utsmān hanya ingin menjaga din Ia tak izinkan darah tertumpah Tak mau sahabat bertempur demi dirinya Ia lebih memilih diam dalam doa Meski ancaman datang dari segala penjuru kota [Pre-Chorus] Ibnu Katsir mencatat dengan hati pedih Bagaimana fitnah mengalahkan ilmu yang bersih [Chorus] Syahid di rumahnya, mushaf di pelukannya Tak membawa pedang, hanya sabar di dada Darahnya tumpah di atas ayat Seakan dunia lupa siapa yang paling dermawan di awal umat Ia bisa melawan, ia punya kekuatan Tapi ia memilih langit sebagai perlindungan Karena tak ingin umat hancur karenanya Ia rela wafat sebagai syahid di rumahnya [Bridge – Spoken word, penuh hikmah] "Fitnah itu bukan datang dari musuh luar... Tapi dari kelalaian kita menjaga amanah sabar. Dan saat hawa nafsu diberi suara, Para ulama pun dibungkam dengan fitnah durhaka." [Outro – Penuh doa dan pelajaran] Wahai umat, jangan ulangi luka Belajarlah dari syahidnya sang Khulafā’ yang mulia Karena tak semua kebenaran harus dibela dengan pedang Terkadang, sabar adalah kemenangan paling tenang [Outro – Doa dan pelajaran] Wahai umat, jangan ulangi luka Satukan hati dengan ilmu dan takwa Jangan jadikan politik sebagai kiblat Dan jangan ikat pedang dengan dalil yang cacat Shiffīn telah berlalu… Tapi pelajarannya harus hidup dalam kalbu [instrument] [end]