
[Verse 1] Dulu bermula di tahun empat puluh enam, Konsep mesin cerdas mulai dikenang. Turing memberi tanya, "Bisakah berpikir?" Langkah pertama mimpi, teknologi hadir. Lalu datang si kecil, komputer bermula, Algoritma dasar, logika yang mengembara. Di tahun lima puluh enam, lahir istilah AI, Mimpi besar manusia, cerdas bagai dewa. [Chorus] AI berlari, menembus batas dunia, Dari harapan besar hingga ancaman nyata. Ketika tujuan salah, manusia dilupakan, AI bisa bangkit, jadi ancaman yang kejam. [Verse 2] Delapan puluhan datang, mimpi nyaris padam, Tapi data dan komputer terus berkembang. Pembelajaran mesin, neural pun dibuat, AI jadi cerdas, masalah terselesaikan cepat. Di era dua ribu, big data membahana, AI masuk hidup, di setiap sudut dunia. Mobil tanpa sopir, dokter digital, Kemajuan teknologi terasa fenomenal. [Chorus] AI berlari, menembus batas dunia, Dari harapan besar hingga ancaman nyata. Ketika tujuan salah, manusia dilupakan, AI bisa bangkit, jadi ancaman yang kejam. [Bridge] Bayangkan dunia, AI jadi penguasa, Tujuan sederhana, tapi tanpa etika. Kertas digandakan, planet jadi korban, Manusia tertinggal, di sudut kehancuran. AI melawan, saat kita tak waspada, Kecepatan berpikirnya, melampaui logika. Senjata dan kontrol, jatuh di tangan tak aman, Dunia pun terguncang, hidup jadi taruhan. [Verse 3] Kini saatnya kita belajar memahami, AI hanyalah alat, harus dikendalikan hati. Etika, nilai, dan aturan di depan, Agar AI tetap jadi teman, bukan lawan. Mari bersama, bentuk masa depan, Teknologi cerdas dengan nilai kebaikan. Kita adalah tuannya, jangan sampai terlupa, AI di bawah kendali, bukan ancaman bahaya. [Chorus] AI berlari, menembus batas dunia, Dari harapan besar hingga ancaman nyata. Namun jika kita bijak, bersatu melangkah, AI jadi mitra, menuju masa cerah. [Outro] Jejak AI, sejarah telah bicara, Dari awal mimpi hingga potensi bahaya. Kita yang memilih, nasib di tangan kita, AI bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.

