[intro] [Verse 1] (Lembut, seolah-olah bertanya) Pernahkah kau ingin sesuatu Namun waktu seakan menutup pintu? Kau tanya, “Mengapa belum tiba?” Tapi... adakah kau tahu maknanya? [Pre-Chorus] (Bersuara lembut namun mengajak) Tidakkah kau lihat, Tiap detik adalah titah-Nya? Apa yang Dia tampakkan, Itulah yang sempurna... [Chorus] 🎶 Biarkan waktu bicara, Jangan paksa yang belum nyata Bukan semua harus kau genggam Yang terbaik telah Allah tetapkan... Jangan kau buat kisah sendiri, Saat Dia sedang menulis untukmu Bukan takdir yang lambat datang Mungkin hatimu yang belum tenang... [Verse 2] (Lebih reflektif) Kau berdoa dalam tangis sunyi Ingin esok, hari ini terjadi Tapi yang tahu waktu terbaik Bukan kau, tapi Dia yang Maha Baik... [Bridge] (Agak dramatis, dengan bisikan lembut atau suara naratif) Kejahilan... bukan sekadar tak tahu, tapi menginginkan sesuatu di luar kehendak waktu... [Chorus – ulang dan diperluas] 🎶 Biarkan waktu bicara, Jangan paksa yang belum nyata Apa yang datang di waktu-Nya Itulah anugerah tanpa cela Tak semua kehendak kita Adalah cahaya bagi jiwa Yang tahu rahasia waktu Hanya Dia... hanya Dia... [Outro – Spoken Word, seperti zikir dalam lagu] “Tidak meninggalkan kejahilan... orang yang ingin mengubah waktu dari apa yang telah Allah tampakkan…” [instrument] [end]