[Intro] Ada malam yang terlalu sunyi, hingga detik jam terdengar seperti tangisan. Ada rindu yang terlalu lama tinggal, hingga ia lupa cara pulang. [Verse 1] Saat kau pergi, tak ada pintu yang benar-benar tertutup. Yang tertinggal hanyalah ruang, dan aku yang perlahan hilang di dalamnya. Orang-orang bilang, waktu akan menyembuhkan. Tapi mereka tak pernah melihat bagaimana aku berbicara dengan dinding, karena tak ada lagi yang menjawab namaku. Aku meminum pagi dengan mata yang tak tidur, menelan senja dengan dada yang runtuh. Setiap jalan yang pernah kita lewati, berubah menjadi museum kehilangan. [Pre-Chorus] Aku mencoba membencimu, namun yang hancur justru diriku. Aku mencoba melupakanmu, namun yang hilang justru hidupku. [Chorus] Lalu aku jatuh, jatuh begitu dalam, hingga dasar kesedihan terasa seperti rumah. Dan ketika semua orang tak lagi mengerti tangisku, aku mulai mencintai kesunyian, karena hanya dia yang tak pernah meninggalkanku. Jika suatu hari kau mendengar lagu ini, jangan pernah berpikir aku masih menunggumu. Aku menulis ini bukan untukmu, aku menulis ini agar dunia tahu: kita pernah ada. [Verse 2] Tahun-tahun berlalu, dan aku tak lagi menghitungnya. Aku mulai mengenal sunyi seperti seorang sahabat lama. Aku berjalan sendiri, makan sendiri, tertawa sendiri, dan anehnya, aku tak lagi merasa kesepian. Malam yang dulu menyiksaku, kini menjadi tempat pulang. Gelap yang dulu kutakuti, kini menjadi pelukan paling tenang. [Bridge] Bukan karena aku sudah melupakanmu, bukan pula karena luka itu hilang. Aku hanya belajar bahwa beberapa cerita tidak ditakdirkan untuk dilanjutkan, melainkan untuk dikenang tanpa harus dihidupkan kembali. Maka malam ini, aku menulis. Bukan surat. Bukan doa. Bukan permohonan untuk kembali. Hanya sebuah lagu, untuk mengubur kenangan dengan cara yang paling indah. [Final Chorus] Dan jika dunia bertanya mengapa lagu ini terdengar begitu sepi, katakan pada mereka, karena ia lahir dari seseorang yang pernah kehilangan seluruh semestanya. Aku tak lagi mencarimu di antara wajah-wajah baru. Aku tak lagi memanggil namamu dalam doa yang sama. Aku menulis ini bukan untuk mengingatmu lagi, bukan untuk membuatmu kembali, bukan untuk membuka luka yang telah mati. Aku menulis ini karena dahulu, di suatu waktu yang telah musnah, pernah ada kita. [Outro] Dan setelah lagu ini selesai, aku akan kembali kepada sunyi— satu-satunya yang tetap tinggal, ketika semua yang lain memilih pergi.


