[intro] 🎤 (Verse 1 – Penyanyi utama) Kita memilih, kita berencana Tapi sering hidup tak sesuai kata Kita ingin jalan yang kita suka Tapi yang terjadi… kadang sebaliknya 🎶 (Respons – Audiens/anak-anak) Kalau begitu, mengapa kita diberi akal? Bukankah manusia makhluk yang istimewa? Jika tak boleh memilih, lalu apa gunanya? Apakah semua sudah ditetapkan saja? 🎤 (Verse 2 – Penyanyi utama) Benar, akal itu cahaya petunjuk Tapi tetap Allah-lah yang menentukan arah Kita bisa berusaha dan bergerak Tapi bukan kita yang pegang hasilnya 🎶 (Respons – Audiens) Jadi apakah kita hanya boneka? Ataukah masih ada peran yang nyata? Apa makna dari kehendak manusia Jika semua ditulis tanpa sisa? 🎤 (Chorus – Bersama) 🌟 Kita bukan boneka, tapi hamba, 🌟 Punya usaha, tapi bukan pemilik hasilnya. 🌙 Yang menciptakan, lebih tahu tujuan, 🌙 Karena kita ada pun bukan dari pilihan. 🎵 (Bridge – Perenungan dalam) Kita tak memilih dilahirkan Tak memilih wajah, negeri, bahkan zaman Tapi tetap dituntut untuk berjalan Karena ujian bukan tentang kendali… tapi kesetiaan 🎤 (Verse 3 – Penyanyi utama) Bukan soal kau dapat atau tidak Tapi apakah kau ridha dan taat Bukan soal kau mengerti segalanya Tapi apakah kau percaya pada-Nya? 🎶 (Respons – Audiens) Jadi tugas kita adalah menyerah? Ataukah berjuang dalam pasrah? Bagaimana jadi hamba sejati, Tanpa jadi lemah, tanpa lari? 🎤 (Final Chorus – Semua bersama dengan semangat dan hikmah) 🌟 Berjuanglah dalam kehendak-Nya, 🌟 Pasrahkan hasil, genggam makna. 🌙 Tak punya kuasa bukanlah hina, 🌙 Tapi bukti bahwa kita milik-Nya. 🎼 Penutup (lirih dan tenang): "Kita tak memilih untuk ada… Tapi kita bisa memilih untuk taat kepada-Nya." [instrument] [end]