
[intro] [Verse 1] Bila suara berbeda, jangan buru menghakimi Kadang kebenaran tampak dari sisi yang sunyi Bila hati diuji, jangan bawa pedang dulu Karena tak semua luka butuh disayat waktu itu [Pre-Chorus] Satu kata: keadilan… bukan sekadar pembenaran Ia menimbang bukan dengan rasa Tapi dengan iman dan neraca [Chorus] Di tengah retak kita berdiri Tak semua beda harus dibenci Sabar itu bukan lemah, tapi kekuatan menahan api Di antara riuh kita mencari Hikmah yang tersembunyi dalam sepi Karena damai bukan tanpa perbedaan Tapi saat hati tak mau membalas luka dengan kehancuran [Verse 2] Terkadang yang paling benar… Adalah yang paling lambat bicara Dan yang paling sabar… adalah yang tetap tenang meski dilempar kata [Pre-Chorus] Hikmah bukan dari marah Tapi dari diam yang paham arah [Chorus] Di tengah retak kita berdiri Tak semua beda harus dibenci Sabar itu bukan lemah, tapi kekuatan menahan api Di antara riuh kita mencari Hikmah yang tersembunyi dalam sepi Karena damai bukan tanpa perbedaan Tapi saat hati tak mau membalas luka dengan kehancuran [Bridge – Argumentatif Monolog Singkat (spoken word) "Kita ingin menang? Atau ingin menyembuhkan? Apalah arti benar, bila hati tak ikut terang? Adil itu bukan berat sebelah Sabar itu bukan diam pasrah Hikmah tak lahir dari benci… tapi dari cinta yang mau memahami." [Final Chorus – lebih kuat dan haru] Di tengah retak… kita tetap bisa berdiri Karena iman bukan hanya tentang setuju Tapi tentang menjaga satu sama lain Meski tak sejalan, kita tetap saudara seiman [instrument] [end]

