
Di Majelis Musyawarah Tanpa Mahkota
[intro] [Verse 1] Setelah wafatnya Sang Nabi tercinta Umat berkumpul, Madinah bersuara Siapa pemimpin setelah risalah Lalu berkumpullah mereka di Saqifah Abu Bakar ditunjuk bukan karena harta Tapi karena dekat dengan Rasul dan bijaksana Tak dipaksakan, tak diwariskan Tapi dibicarakan oleh orang-orang keimanan [Chorus] Inilah syūrā… Majelis tanpa mahkota Kepemimpinan bukan tahta Tapi amanah yang berat dijaga Musyawarah bukan basa-basi Ia hidup dalam hati yang suci Dari Abu Bakar hingga Ali Mereka pimpin dengan cinta, bukan ambisi [Verse 2] Umar pun diangkat lewat wasiat Tapi tak tanpa restu umat Ia bentuk Majelis Syūrā kecil Enam sahabat pilihan, semua adil Utsman terpilih lewat musyawarah Bukan karena suara ramai semata Ali pun naik bukan karena angkat senjata Tapi karena rakyat memilih pemimpin yang bijaksana [Chorus] Inilah syūrā… Majelis tanpa mahkota Kepemimpinan bukan tahta Tapi amanah yang berat dijaga Musyawarah bukan basa-basi Ia hidup dalam hati yang suci Dari Abu Bakar hingga Ali Mereka pimpin dengan cinta, bukan ambisi [Bridge] Bukan raja, bukan warisan Tapi dialog, cinta, dan keimanan Mereka dengarkan suara umat Lalu putuskan dengan hikmah yang tepat [Outro – Reflektif] Andai umat hari ini belajar dari mereka Bahwa syūrā bukan sekadar suara Tapi jalan menuju keadilan dan rahmat Warisan Khulafā’ Rāsyidīn yang penuh berkat [instrument] [end]

