
(Bait 1) Langkahku terhenti di sudut selasar pondokmu Angin malam membawa sunyi yang begitu panjang Kucari wangi jubahmu yang biasa menenangkan ragu Namun malam itu, hanya sepi yang datang bertandang (Bait 2) Di mana kini wajah teduh yang dulu sering kupalingkan.!? Saat anak bodoh ini sibuk mengejar dunia yang melalaikan. Sajadah usangmu masih membentang di pengimaman Menunggu sosok suci yang telah lama berpulang (Bait 3) Aku berdiri di ambang pintu yang penuh keterasingan Meratapi waktu yang tak akan mungkin bisa diulang Guru... aku pulang dengan jiwa yang teramat koyak.! Namun rengkuhan hangatmu kini tak lagi bisa ku peluk akrab. (Reff/Paduan Suara) Di atas ingatan yang masih hangat ini ku bersimpuh, Menangisi tangan mulia yang tak sempat lagi ku cium penuh takzim.. Ke mana harus kucari ridhamu yang kini telah menjauh.!? Kini suaramu menjelma gema di dalam bathin yang yatim, Maafkan anak mu yang terlambat menyadari ketulusanmu.. Kini hanyalah nisan dingin yang mendekap erat seluruh rinduku.. .(Bait 4) Kuingat jemarimu yang bergetar saat menyalin doa Selalu menyelipkan namaku di setiap sepertiga malam Bahkan saat ku melangkah pergi membawa kecewa Cintamu tak pernah surut, mengalir diam dalam diam Kini dunia yang ku puja telah mencampakkanku tanpa iba Dan aku kembali hanya untuk mendapati Guru ku yang telah tiada. (Reff/Paduan Suara) Di atas ingatan yang masih hangat ini ku bersimpuh, Menangisi tangan mulia yang tak sempat lagi ku cium penuh takzim.. Ke mana harus kucari ridhamu yang kini telah menjauh.!? Kini suaramu menjelma gema di dalam bathin yang yatim, Maafkan anak mu yang terlambat menyadari ketulusanmu.. Kini hanyalah nisan dingin yang mendekap erat seluruh rinduku.. .(Outro) Lantunan ayat suci ku kirim sebagai pengganti pelukan.. Ku titipkan rindu ini pada pemilik semesta alam.. Guru....! tunggu anak mu ini di keabadian... (Petikan gitar terakhir berdenting sangat lambat, lalu sunyi)

