[Verse 1] [Intro] Ia masuk Islam dalam usia muda Di tangan Nabi, ia temukan cahaya Orang pertama yang tumpahkan darah Demi Islam, tanpa ragu sedikit jua Sa‘d ibn Abī Waqqāṣ, sang pemanah langit Panahnya tepat, tapi doanya lebih dahsyat Ibnu Katsīr kisahkan dengan kagum Bahwa doanya tembus seperti panah yang meluncur ke dalam kalbu [Chorus] Panah doa, hati baja Tak gentar di medan, tak goyah di badai dunia Ketika Persia menggertak di Qadisiyyah Sa‘d berdiri — memimpin dengan iman, bukan hanya senjata Bukan panglima biasa, tapi wali yang setia Tak cari pujian, hanya ridha dari Yang Maha Esa Inilah Sa‘d, lelaki yang Rasul banggakan Doanya di langit, langkahnya di jalan Tuhan [Verse 2] Di Qadisiyyah, dia sakit tak bisa menunggang kuda Tapi dari menara, ia atur pasukan dengan doa Pasukannya bertakbir, bumi bergetar Dan pasukan Kisra pun hancur, tersungkur dalam debu sejarah Ia bukan raja, tapi lebih mulia Karena ia tak pernah khianati dakwah Rasulullah Ibnu Katsīr menulisnya sebagai legenda Panglima yang dituntun bukan oleh ego, tapi oleh syahadah [Bridge – Spoken Word Inspiratif] "Jika engkau ingin menang bukan karena jumlah, Lihatlah Sa‘d: sedikit pasukan tapi hati penuh tawakkal Ketika lidahmu basah oleh doa, dan langkahmu teguh di jalan yang halal, Maka kemenangan akan turun, bukan hanya di medan perang, tapi di segala hal" [Chorus – Reprise] Panah doa, hati baja Tak gentar di medan, tak goyah di badai dunia Ketika Persia menggertak di Qadisiyyah Sa‘d berdiri — memimpin dengan iman, bukan hanya senjata [Outro – Refleksi dan harap] Wahai jiwa yang rindu pada kejayaan Belajarlah dari Sa‘d: tenang tapi menaklukkan Dengan cinta pada Nabi, dan yakin tak tergoyahkan Karena kemenangan sejati, lahir dari iman yang menundukkan [Instrument] [End]