Song Cover Image

Tuhan, Bolehkah?

V6-MINI

Pekan ini Aku pulang Kang, meski tak penuh kantongku, tapi cukuplah untuk setoranku aku kangen thole Kang. Sebak dadaku menahan himpitan kuasa dan angkaramu tak mampu membendung rasa kangenku, pada buah hatiku. Oh, iya Kang, ada sebuah hadiah juga untukmu, tapi masih ku rahasiakan darimu, hanya Tuhan yang tahu, karena aku telah mengadukan perihal hadiahku kepada-Nya. Tak usah menjemputku di stasiun seperti biasanya ya Kang, aku mau menikmati perjalanan ini, sendirian saja, karena nanti aku tak kan bisa menikmatinya. Ini suratku untuk suamiku tersayang, minggu lalu, suami yang telah menikahiku dengan mahar sekeping uang ratusan sisa kalah judi domino. Tak apalah, yang penting sah, syaratnya sudah terpenuhi, kata suamiku. Malam ini, saat semua terlelap tertidur, bayangan suamiku tergambar jelas di langit-langit kamar pengap ini. Tubuh tegapnya berlumuran darah.... Pisau dapur seharga tiga ribu, menancap di punggungnya..... Ah, suamiku sayang, kini kaupun mati terjengkang..... Siapa suruh kau setiap saat membuatku melacurkan diri ? Siapa suruh kau menyandera buah hatiku demi menuntut uang setoran dariku yang kau pergunakan untuk judi domino dan tidur dengan pelacur ....... Tuhan, bolehkah aku mengucap Alhamdulillah atas tercapainya hajat membunuh suamiku tersayang......?? Pekan ini Aku pulang Kang, meski tak penuh kantongku, tapi cukuplah untuk setoranku aku kangen thole Kang. Sebak dadaku menahan himpitan kuasa dan angkaramu tak mampu membendung rasa kangenku, pada buah hatiku. Oh, iya Kang, ada sebuah hadiah juga untukmu, tapi masih ku rahasiakan darimu, hanya Tuhan yang tahu, karena aku telah mengadukan perihal hadiahku kepada-Nya. Tak usah menjemputku di stasiun seperti biasanya ya Kang, aku mau menikmati perjalanan ini, sendirian saja, karena nanti aku tak kan bisa menikmatinya. Ini suratku untuk suamiku tersayang, minggu lalu, suami yang telah menikahiku dengan mahar sekeping uang ratusan sisa kalah judi domino. Tak apalah, yang penting sah, syaratnya sudah terpenuhi, kata suamiku. Malam ini, saat semua terlelap tertidur, bayangan suamiku tergambar jelas di langit-langit kamar pengap ini. Tubuh tegapnya berlumuran darah...... Pisau dapur seharga tiga ribu, menancap di punggungnya...... Ah, suamiku sayang, kini kaupun mati terjengkang!!, Siapa suruh kau setiap saat membuatku melacurkan diri ? Siapa suruh kau menyandera buah hatiku demi menuntut uang setoran dariku yang kau pergunakan untuk judi domino dan tidur dengan pelacur !! Tuhan, bolehkah aku mengucap Alhamdulillah atas tercapainya hajat membunuh suamiku tersayang ??