[intro] [Verse 1] Pernahkah kau menepi… dari riuh dunia yang tiada henti? Pernahkah kau duduk sendiri… tanpa layar, tanpa suara… hanya sunyi? [Verse 2] Apa yang kau temukan dalam keramaian? Apa yang hatimu cari dalam pujian? Bukankah… makin bising, makin kau jauh? Makin ramai, makin jiwamu rapuh? [Pre-Chorus – nada lembut menyapa] Wahai jiwa yang lelah di luar Tidakkah kau rindu pulang ke dalam? Ke ruang yang tak butuh penonton Hanya kau… dan Tuhan yang menunggu diam-diam [Chorus – ajakan lembut] 🎶 Maukah kau menyepi…? Maukah kau temui hatimu sendiri? Karena tak ada yang menyembuhkan Seperti uzlah yang menyingkap cahaya dalam keheningan Meninggalkan bukan berarti kalah Terkadang sunyi itulah amanah Sebab di balik sepi itu… Ada medan pertemuan yang paling jujur antara kau dan Dia [Verse 3 – suara hati yang berbicara] Apa yang kau takutkan dari diam? Kehilangan panggung… atau kehilangan arah? Apa yang kau rindukan sebenarnya? Keramaian... atau ketenangan yang sesungguhnya? [Bridge – setengah berbisik, mendalam] Dalam sepi… tak ada penilaian Hanya kejujuran dan harapan Dalam menyendiri… Terbukalah pintu-pintu makna yang lama tersembunyi [Chorus – ulang lebih intensif, tetapi tetap lembut] 🎶 Maukah kau menyepi…? Maukah kau kembali ke sunyi? Karena uzlah bukan melarikan diri Tapi jalan untuk mengenal siapa diri ini… Tak semua perjumpaan butuh kata Tak semua cahaya lahir di keramaian Kadang… hanya dalam diammu Tuhan berbicara [Outro – spoken, reflektif seperti doa] Pernahkah kau benar-benar sendiri… Bukan karena ditinggal, Tapi karena ingin lebih dekat… Pada Dia yang tak pernah jauh? [instrument] [end]

Comments are disabled on this song