
Kau, Kau yang ter-rengkuh dalam bait do'aku, Kau, laksana bayangan maya di antara gelap malam dan rinai gerimis. Kau, pucat pasi dalam balutan sepi, berlari-lari kecil menembus relung-relung hati, mendobrak pintu di ujung sujudku yang tak lagi khusyu'. Kau, Merayu dan menggoda, tersipu kemudian berpaling, membuyarkan semua do'aku. Kau, celakalah aku... kalau sedetik saja tak dapat ku campak-kan bayangmu. Duuuhhh....... Aaahhh ....... Punggungku makin rapuh, Makin tak berdaya..... tapi keperkasaanmu tak pernah lelah menjegal langkah kakiku, Duuuhhh..... Aaahhh........ hati ini risih, malu untuk memaki, bersandar perih pada pilar masjid, aku memandangmu, kapan kau pergi. Kau, Kau yang ter-rengkuh dalam bait do'aku, Kau, laksana bayangan maya di antara gelap malam dan rinai gerimis. Kau, pucat pasi dalam balutan sepi, berlari-lari kecil menembus relung-relung hati, mendobrak pintu di ujung sujudku yang tak lagi khusyu'. Kau, Merayu dan menggoda, tersipu kemudian berpaling, membuyarkan semua do'aku. Kau, celakalah aku... kalau sedetik saja tak dapat ku campak-kan bayangmu. Duuuhhh....... Aaahhh ....... Punggungku makin rapuh, Makin tak berdaya..... tapi keperkasaanmu tak pernah lelah menjegal langkah kakiku, Duuuhhh..... Aaahhh........ hati ini risih, malu untuk memaki, bersandar perih pada pilar masjid, aku memandangmu, kapan kau pergi. Kau, Kau yang ter-rengkuh dalam bait do'aku, Kau, laksana bayangan maya di antara gelap malam dan rinai gerimis. Kau, pucat pasi dalam balutan sepi, berlari-lari kecil menembus relung-relung hati, mendobrak pintu di ujung sujudku yang tak lagi khusyu'. Kau, Merayu dan menggoda, tersipu kemudian berpaling, membuyarkan semua do'aku. Kau, celakalah aku... kalau sedetik saja tak dapat ku campak-kan bayangmu. Duuuhhh....... Aaahhh ....... Punggungku makin rapuh, Makin tak berdaya..... tapi keperkasaanmu tak pernah lelah menjegal langkah kakiku, Duuuhhh..... Aaahhh........ hati ini risih, malu untuk memaki, bersandar perih pada pilar masjid, aku memandangmu, kapan kau pergi.

