
Ku dengar kau seperti bersuara dari jauh mengucapkan salam. Seperti angin yang semilir kau belai rambut sutra ini. Di beranda ini kemudian aku tercengang sudah lama, kau telah tiada. Di taman itu pernah ku tanam kembang melati tapi tak pernah tumbuh dan berbunga seperti tak pernah kunikmati indahnya bunga-bunga pengantin kemarau ini begitu kering jauh di lereng gunung, hutan itu terbakar seperti kenangan itu membakar diriku, hangus dan runtuh semestinya inilah hari kemerdekaanku dan ku kibarkan bendera kemenanganku tapi hanya mimpi. Jauh di sana mungkin kau menangis tapi sebenarnya akulah yang menangis merintih dan perih. Ku dengarkan kau seperti bersuara sebuah nyanyian tentang cinta dan kerinduan tentang sepucuk doa tentang darah dan air mata yang terlanjur tertumpah, tanpa makna Suara itu hanya kau yang punya hanya aku yang mendengar karena sukmamu jiwa ragaku. Ku dengar kau seperti bersuara dari jauh mengucapkan salam. Seperti angin yang semilir kau belai rambut sutra ini. Di beranda ini kemudian aku tercengang sudah lama, kau telah tiada. Di taman itu pernah ku tanam kembang melati tapi tak pernah tumbuh dan berbunga seperti tak pernah kunikmati indahnya bunga-bunga pengantin kemarau ini begitu kering jauh di lereng gunung, hutan itu terbakar seperti kenangan itu membakar diriku, hangus dan runtuh semestinya inilah hari kemerdekaanku dan ku kibarkan bendera kemenanganku tapi hanya mimpi. Jauh di sana mungkin kau menangis tapi sebenarnya akulah yang menangis merintih dan perih. Ku dengarkan kau seperti bersuara sebuah nyanyian tentang cinta dan kerinduan tentang sepucuk doa tentang darah dan air mata yang terlanjur tertumpah, tanpa makna Suara itu hanya kau yang punya hanya aku yang mendengar karena sukmamu jiwa ragaku.

