
Pedang Allah yang Terhunus
[Intro] [Verse 1] Ia dulu datang sebagai lawan Di Uhud, memukul barisan keimanan Namun cahaya tak bisa disembunyikan Dan akhirnya ia memilih Islam dengan keberanian Khālid, si penakluk takhta dan medan Yang tak pernah kalah, tapi tak pernah sombong di hadapan Tuhan Rasul memanggilnya, "Pedang Allah yang terhunus" Namanya ditakuti, tapi hatinya penuh rahmat yang lembut [Chorus] Kemenangan bukan karena pedang di tangan Tapi karena keyakinan yang tertanam Khālid ibn al-Walīd, sang panglima Yang hidup untuk Allah, dan mati pun tetap berjasa Dari Mu’tah ke Yarmūk, tak gentar dia maju Satu demi satu musuh pun tunduk malu Ibnu Katsir mencatat tiap langkahnya Sebagai bukti bahwa keimanan bisa menaklukkan dunia [Verse 2] Di setiap malam sebelum perang Ia berdiri dalam tahajjud yang panjang Bukan hanya panglima, tapi hamba sejati Yang menangis bila ummat kehilangan arti Ia tak diizinkan lanjutkan tugas Di akhir hayat Umar pun mencabut gelar emas Tapi Khālid tak gugat, tak mengeluh Katanya: "Aku berperang bukan untuk dunia, tapi untuk Ruh." [Bridge – Spoken word inspiratif] "Di atas ranjang aku akan wafat, Padahal aku melewati seratus perang Bagaimana mungkin para pengecut bisa tidur tenang?" – Khālid ibn al-Walīd (dalam riwayat Ibnu Katsir) [Chorus – Reprise] Kemenangan bukan karena pedang di tangan Tapi karena keyakinan yang tertanam Khālid ibn al-Walīd, sang panglima Yang hidup untuk Allah, dan mati pun tetap berjasa [Outro – Reflektif dan penuh harap] Wahai generasi, jangan hanya kenang namanya Warisi semangat, keberanian, dan cinta pada agama Karena pedang takkan berarti Tanpa jiwa yang tunduk di hadapan Ilahi [Instrument] [End]

