Song Cover Image

Roso iku Guru Sejati

Roso... Roso iku guru... Sing sejati... Aku terbiasa bertanya pada tabel, mana yang untung, mana yang aman, mana yang masuk akal. Tapi malam ini ada suara lain, bukan di kepala—tapi di dada. Ia tidak berdebat, tidak menjelaskan, hanya diam, dan diamnya terasa benar. Ada yang ingin kutinggalkan, tapi kaki ini menolak melangkah. Mungkin aku tidak butuh jawaban. Mungkin aku hanya butuh jujur, bahwa logika bisa diam, ketika rasa mulai bicara. Roso iku guru kang sejati... Dia tahu sebelum aku sempat berkata. Apa yang benar di atas kertas, belum tentu benar di dalam dada. Roso... Aku berhenti sejenak... Mendengar yang selama ini tak kudengar. Roso... Aku tidak ingin lari lagi. Ada orang yang datang tanpa alasan, tinggal sebentar, lalu jadi musim. Logika berkata "lupakan saja", tapi tangan masih ingat hangatnya. Ada jalan yang tidak menjanjikan apa-apa, tapi setiap langkah terasa seperti pulang. Mungkin bukan tentang sampai, tapi tentang siapa yang menemani selama berjalan. Mungkin aku tidak butuh jawaban. Mungkin aku hanya butuh jujur, bahwa logika bisa diam, ketika rasa mulai bicara. Roso iku guru kang sejati... Dia tahu sebelum aku sempat berkata. Apa yang benar di atas kertas, belum tentu benar di dalam dada. Roso... Aku berhenti sejenak... Mendengar yang selama ini tak kudengar. Roso... Aku tidak ingin lari lagi. Roso iku dalan... Dudu mungsuh pikiran... Nanging koncho kang bisu... Sing ngerti sakdurunge awak ngerti... Aku tidak harus memilih antara pikiran dan perasaan. Aku hanya perlu berhenti berpura-pura bahwa aku tidak merasakan apa-apa. Aku mendengar... Aku mendengar sekarang... Bukan jawaban... Tapi rasa yang selama ini menunggu... Roso iku guru kang sejati... Dia tahu sebelum aku sempat berkata. Apa yang benar di atas kertas, belum tentu benar di dalam dada. Roso... Aku berhenti sejenak... Mendengar yang selama ini tak kudengar. Roso... Aku tidak ingin lari lagi. Aku tidak ingin lari lagi. Roso iku guru... Sing sejati... Sing sejati...